Dibalik Rayuan Gombal

Pernahkah terpikir oleh kalian bahwa cinta itu punya kepentingan? Jangan dikira ketika seseorang mengatakan “aku cinta kamu” itu tidak punya kepentingan, jangan dikira orang yang bilang “kamulah yang terakhir dalam hidupku” itu tidak sungguh-sungguh dengan kata-katanya, karena dia punya kepentingan. Singkatnya, orang yang jatuh cinta itu punya kepentingan.

Masalahnya adalah, kepentingan apa yang dimiliki oleh orang yang sedang jatuh cinta ini? Jawabannya tergantung pada definisi cinta masing-masing orang dan cara yang ditempuhnya. Orang yang mencintai seseorang dan menggunakan cara pacaran, kepentingannya adalah mendapatkan kenikmatan seksual gratis. Dia memilih cara pacaran karena hal itu cara paling mudah untuk mendapatkan kepentingan mereka tanpa mengeluarkan biaya mahal untuk membayar mahar, mengundang orang, penghulu, biaya sewa gedung, dll.

Apa ada kepentingan orang berpacaran selain seksual? Ada, tapi itu alasan. Sebagai doping belajar, buat penjajakan, untuk mengetahui sifat masing-masing pasangan. Kenapa itu hanya menjadi alasan? Karena pacaran ternyata lebih banyak membuat orang pusing terhadap sikap pura-pura, pura-pura tahu, pura-pura jagoan, pura-pura tidak tertarik terhadap wanita lain. Alasan inilah kenapa setelah terjadi “kecelakaan” kedua pasangan kemudian mengeluarkan sifat aslinya. Yang wanita merasa menyesal, dan yang pria “kabur” entah kemana.

Secara umum, para pencinta kenikmatan seksual gratis tidak berkepentingan terhadap pernikahan. Tentu saja karena menikah adalah cerita menakutkan tentang tanggung jawab terhadap pasangan, anak, lingkungan, mertua, family. Inilah alasan mengapa mereka melestarikan arti cinta dalam kacamata kepentingan mereka.

Lantas, apakah kita tidak punya kepentingan terhadap cinta? Sangat punya. Tetapi, untuk urusan seks, kita sudah menitipkannya di lembaga pernikahan, sebab seks hanyalah salah satu bagian dalam cinta.