Surat Cinta Bunda

Anak-anakku,
kadang aku merasa sangat lelah saat kau sakit dan harus begadang menemani tidurmu yang gelisah, padahal akan tiba saatnya nanti aku justru ingin menemanimu tidur tapi kau telah pergi dari rumah.

kadang aku merasa repot saat ingin pergi dan kau merengek minta ikut serta, padahal akan ada masanya nanti kau tidak mau lagi kuajak pergi meskipun sudah kubujuk sedemikian rupa.

kadang aku merasa waktu tak cukup untuk mendengarkan semua ceritamu, padahal akan tiba saatnya nanti aku justru ingin kau bercerita panjang lebar di sampingku yang kesepian.

kadang aku merasa tidak telaten untuk menyuapimu, padahal akan tiba saatnya nanti aku menjadi si tua yang membutuhkan pelayanan dan kesabaran luar biasa darimu.

kadang aku kesal karena harus mengingatkan hal yang sama berulang-ulang padamu, yang tidak langsung disambut dengan 'ya' tetapi justru ’entar dulu’, 'tunggu’ diikuti sederet alasan panjang lainnya, padahal akan tiba saatnya nanti aku yang tua renta ini berharap kalian berkumpul menemaniku, atau setiap hari menunggu-nunggu dering telepon hanya sekedar untuk mendengar suaramu, tapi jarak yang jauh dan kesibukanmu tak selalu memungkinkan untuk itu.

kadang badanku pegal saat kau minta terus dipangku atau tak mau turun dari gendonganku, padahal akan tiba saatnya nanti kalian merasa jengah diperlakukan seperti itu, tak bisa kupangku, kupeluk, kucium lagi dan kau makin sulit kurengkuh saat kegiatan di luar rumah makin menyita waktumu.

Maafkan aku nak,
jika hak-hakmu sebagai anak belum semua dapat kupenuhi. Aku hanyalah manusia biasa dengan segala keterbatasan ada.

Anak-anakku...
semakin hari semakin ku menyadari, sungguh bukan kalian yang membutuhkanku tapi aku lah yang sangat membutuhkan kalian

NOTE:

Bunda, mendidik & merawat anak, laksana memanggul sekarung emas di punggung, yang meski sangat berat, tak boleh diletakkan semenit pun karena sangat berharga, dan karung itu baru dapat dibuka, saat ajalmu tiba.

Diambil dari catatan seorang sahabat di facebook